Oleh: Dr. Abidin – Observer Kesehatan / Ketua Umum BPP OBKESINDO
Obkesindo.com – Pagi itu, Selasa, 20 Oktober 2026, sekitar pukul 08.28 WIB, ketika sedang jogging di kawasan Danau Sunter, Jakarta Utara, saya menemukan pemandangan yang membuat langkah sejenak terasa berat.
Sekitar langkah ke-3.000 dari rumah, menjelang ujung jalur jogging, terlihat seorang ibu bersama lima anaknya sedang tertidur. Tiga di antara anak-anak itu masih balita. Dua lainnya tampak sudah mulai beranjak remaja. Sementara sang ibu dan sebagian besar anaknya terlelap, dua balita terlihat mulai terbangun.
Saya berhenti sejenak dalam kebingungan. Mengapa seorang ibu bersama lima anak berada dalam situasi seperti itu di ruang publik pada pagi hari?
Saya tidak mengetahui siapa mereka, bagaimana perjalanan hidup mereka, atau apa yang menyebabkan mereka berada di tempat tersebut. Karena itu, saya tidak ingin terburu-buru menghakimi sang ibu maupun menyimpulkan keadaan keluarganya.
Namun, pemandangan itu memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar: ketika ada keluarga yang tampak membutuhkan perhatian di sekitar kita, sudahkah kita benar-benar hadir untuk mereka?
Bukan Hanya Pertanyaan tentang Sang Ibu
Reaksi pertama mungkin berupa rasa heran. Sebagian orang barangkali bertanya mengapa seorang ibu membawa lima anak, termasuk tiga balita, hingga tertidur di jalur publik.
Akan tetapi, pertanyaan itu seharusnya tidak berhenti pada sang ibu.
Apakah keluarga tersebut sedang menghadapi kesulitan tempat tinggal? Apakah mereka sedang dalam perjalanan, mengalami keadaan darurat, atau memiliki persoalan lain yang belum kita ketahui? Semua itu perlu dipastikan terlebih dahulu, bukan diasumsikan.
Justru karena kita belum mengetahui latar belakang mereka, pendekatan yang dibutuhkan adalah kepedulian, pemeriksaan keadaan secara bijaksana, dan bantuan yang tepat.
Jika keluarga tersebut memang membutuhkan pertolongan, siapa yang pertama kali akan menyadarinya? Siapa yang akan menyapa dengan baik, memastikan anak-anak aman, dan membantu menghubungkan mereka dengan layanan sosial yang diperlukan?
Jangan sampai kita terlalu cepat menilai seseorang, tetapi terlalu lambat mengulurkan tangan.
Di Mana Peran RT, RW, dan Pemerintah Setempat?
Pemandangan itu juga mengingatkan kita pada pentingnya kehadiran lingkungan dan pemerintah setempat.
RT dan RW merupakan bagian dari lingkungan sosial yang dapat membantu mengenali persoalan warga. Kelurahan, kecamatan, serta dinas sosial memiliki peran dalam menghubungkan masyarakat yang membutuhkan dengan layanan dan perlindungan yang tersedia.
Jika ditemukan keluarga yang berada dalam kondisi rentan di ruang publik, perlu ada mekanisme yang memungkinkan petugas terkait memeriksa situasi mereka secara manusiawi. Apabila terdapat anak-anak yang membutuhkan perlindungan, kepentingan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas.
Pertanyaan tentang peran pemerintah bukan berarti kita boleh langsung menuduh aparat setempat lalai. Kita belum mengetahui apakah keluarga tersebut sudah pernah mendapat bantuan, apakah situasinya baru terjadi, atau apakah petugas terkait telah mengetahuinya.
Namun, peristiwa seperti ini patut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan kota tidak cukup diukur melalui jalan yang tertata, fasilitas publik yang nyaman, atau berbagai program yang terlihat dari luar.
Kota juga perlu dinilai dari kemampuannya mengenali dan merespons kebutuhan warganya, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan.
Kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki fasilitas bagus, melainkan juga kota yang tidak membiarkan persoalan kemanusiaan luput dari perhatian.
Ketika Shalawat Terdengar, Kepedulian Harus Terlihat
Saat itu, suara shalawat Nabi terdengar cukup jelas dan mengalun sambung-menyambung dari masjid di sekitar lokasi.
Bagi umat Islam, shalawat merupakan ungkapan kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Suara itu menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat yang patut dihormati.
Namun, pengalaman pagi tersebut mengingatkan saya pada satu hal: nilai-nilai kebaikan yang kita ucapkan perlu tercermin pula dalam tindakan nyata.
Kepedulian terhadap anak-anak, perhatian kepada keluarga yang mengalami kesulitan, dan kesediaan membantu sesama merupakan bagian penting dari kehidupan bermasyarakat.
Ini bukan soal mempertentangkan ibadah dengan tindakan sosial. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Spiritualitas semestinya turut menguatkan empati, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap manusia di sekitar kita.
Jangan sampai kita begitu akrab dengan pesan-pesan kebaikan, tetapi tidak peka ketika ada sesama yang mungkin membutuhkan pertolongan.
Anak-Anak Membutuhkan Perlindungan, Bukan Penghakiman
Lima anak yang saya lihat pagi itu mengingatkan kita bahwa anak-anak sangat bergantung pada lingkungan orang dewasa untuk memperoleh perlindungan dan rasa aman.
Kita tidak mengetahui apakah mereka sedang menghadapi persoalan tertentu. Kita juga tidak berhak menyimpulkan keadaan kesehatan, ekonomi, atau keluarga mereka hanya dari satu pengamatan singkat.
Meski demikian, keberadaan anak-anak kecil di ruang publik dalam kondisi yang belum jelas patut disikapi dengan perhatian.
Jika situasi serupa ditemukan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mendekati keluarga secara sopan, menanyakan apakah mereka membutuhkan bantuan, dan memperhatikan apakah ada tanda bahaya atau kebutuhan mendesak.
Jika anak tampak sakit, berada dalam bahaya, atau membutuhkan pertolongan segera, bantuan medis maupun layanan darurat perlu dihubungi sesuai keadaan. Jika terdapat dugaan anak membutuhkan perlindungan sosial, masyarakat dapat menghubungi petugas sosial atau layanan perlindungan anak setempat.
Bantuan harus diberikan tanpa mempermalukan, memotret, atau menyebarkan identitas keluarga tanpa persetujuan. Anak-anak bukan objek tontonan dan bukan bahan untuk membangun sensasi di media sosial. Mereka adalah manusia yang memiliki hak atas martabat, privasi, keselamatan, dan masa depan.
Dari Kepedulian Pribadi Menuju Tanggung Jawab Bersama
Persoalan kemanusiaan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan memberikan uang atau makanan. Ada keadaan yang membutuhkan pendampingan, akses tempat tinggal, layanan kesehatan, dukungan pendidikan, atau perlindungan sosial.
Karena itu, kepedulian perlu dibangun melalui kerja sama antara masyarakat, pengurus lingkungan, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pekerja sosial, dan lembaga yang memiliki kapasitas untuk membantu.
Warga dapat memulai dari hal sederhana: tidak mengabaikan orang yang tampak membutuhkan pertolongan, tidak terburu-buru menghakimi, dan mengetahui saluran bantuan yang tepat.
Pengurus lingkungan dapat membantu melakukan penjangkauan dengan menghormati privasi. Pemerintah setempat dapat memastikan bahwa laporan masyarakat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kewenangan. Sementara organisasi sosial dan kesehatan dapat berkontribusi melalui edukasi, pendampingan, serta rujukan layanan.
Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat atau memiliki sumber daya besar untuk menunjukkan kepedulian. Namun, kepedulian individu juga tidak boleh dijadikan alasan bagi institusi yang berwenang untuk mengabaikan tanggung jawabnya.
Keduanya harus berjalan bersama.
Jakarta Menuju Lima Abad, Indonesia Menuju Satu Abad
Jakarta sedang melangkah menuju usia lima abad pada 2027. Indonesia juga akan memasuki satu abad kemerdekaan pada 2045.
Kedua momentum tersebut seharusnya tidak hanya menjadi perayaan usia, pembangunan fisik, atau pencapaian ekonomi. Keduanya juga dapat menjadi kesempatan untuk bertanya: sejauh mana kemajuan yang kita capai telah dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan?
Keadilan sosial bukan sekadar kalimat dalam dasar negara. Nilai tersebut perlu diwujudkan melalui akses terhadap kebutuhan dasar, perlindungan anak, layanan kesehatan, pendidikan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang bermartabat.
Kita tentu tidak dapat menarik kesimpulan tentang kondisi sosial Jakarta hanya dari satu peristiwa di Danau Sunter. Akan tetapi, pengalaman itu cukup untuk menjadi bahan refleksi tentang bagaimana kita merespons kemungkinan adanya kebutuhan kemanusiaan di ruang publik.
Jangan sampai kota tumbuh semakin modern, tetapi kepekaan sosial justru tertinggal. Jangan sampai pembangunan terlihat megah, sementara orang-orang yang membutuhkan bantuan tidak tahu harus mengetuk pintu yang mana.
Mari Memastikan Tidak Ada yang Terabaikan
Pagi itu, saya datang ke Danau Sunter untuk berolahraga. Namun, pemandangan seorang ibu bersama lima anaknya yang tertidur di dekat jalur jogging meninggalkan pertanyaan yang lebih panjang daripada rute yang saya tempuh.
Di mana kepedulian kita? Bagaimana lingkungan dapat memastikan keadaan mereka? Apakah sudah tersedia jalur bantuan yang mudah diakses ketika keluarga berada dalam situasi rentan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak seharusnya berakhir sebagai keluhan. Kita perlu mengubahnya menjadi tindakan yang terukur: memastikan keselamatan, mencari informasi secara bertanggung jawab, menghubungkan mereka dengan bantuan yang tepat, serta memperkuat sistem perlindungan bagi kelompok rentan.
Sebab persaudaraan sebagai sesama manusia dan sebangsa tidak cukup dinyatakan melalui kata-kata. Ia perlu hadir dalam cara kita memperlakukan orang yang membutuhkan perhatian.
Saatnya berbagi perhatian, memperkuat kepedulian, dan memastikan bahwa kemajuan Jakarta serta Indonesia berjalan seiring dengan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dr. Abidin
Observer Kesehatan / Ketua Umum BPP OBKESINDO
Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi berdasarkan pengamatan pribadi pada 20 Oktober 2026. Keadaan dan latar belakang keluarga yang terlihat di lokasi belum diketahui secara pasti.

