Obkesindo – Upaya menghadapi ancaman virus Ebola terus berlanjut. Kali ini, Hilleman Laboratories, perusahaan patungan yang berbasis di Singapura dan didukung oleh Merck serta organisasi filantropi global Wellcome, tengah mempersiapkan produksi vaksin eksperimental untuk melawan virus Ebola strain Bundibugyo.
Vaksin tersebut dikembangkan sebagai respons terhadap ancaman wabah Bundibugyo yang pernah menyebabkan penyebaran penyakit secara cepat di Republik Demokratik Kongo. Program ini memperoleh dukungan pendanaan hingga 8,5 juta dolar AS atau sekitar Rp153,7 miliar dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).
WHO Menilai Kandidat Vaksin Sangat Menjanjikan
Berdasarkan laporan Reuters, vaksin ini memanfaatkan platform recombinant vesicular stomatitis virus (rVSV), teknologi yang juga digunakan pada vaksin Ebola Ervebo milik Merck yang telah memperoleh persetujuan untuk melawan strain Zaire.
Kandidat vaksin tersebut dikembangkan oleh International AIDS Vaccine Initiative (IAVI) dan pada Mei lalu dipilih oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu kandidat yang paling menjanjikan untuk menghadapi Ebola Bundibugyo.
Hilleman Labs Produksi Dosis untuk Uji Klinis
Dalam kolaborasi ini, Hilleman Laboratories akan mengolah bahan baku yang disiapkan IAVI menjadi dosis vaksin siap pakai untuk mendukung uji klinis tahap awal.
Sementara itu, Merck akan memberikan dukungan teknis, termasuk keahlian dalam aspek ilmiah dan proses manufaktur berbasis platform rVSV.
Kepala Penyakit Menular dan Penemuan Vaksin Merck, Tarit Mukhopadhyay, mengatakan bahwa dosis pertama diperkirakan telah siap digunakan dalam uji klinis pada akhir tahun 2026.
Produksi Puluhan Ribu Dosis
Hilleman Laboratories menyatakan fasilitas produksinya mampu menghasilkan puluhan ribu dosis vaksin, jumlah yang dinilai memadai untuk memenuhi kebutuhan penelitian klinis tahap awal.
Apabila nantinya dibutuhkan produksi dalam jumlah lebih besar, para mitra telah menyepakati mekanisme alih teknologi kepada produsen lain yang memiliki kapasitas manufaktur lebih tinggi sehingga distribusi vaksin dapat diperluas.
Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Wabah
Kepala Bidang Vaksin Wellcome, Charlie Weller, menilai pengembangan vaksin Bundibugyo menjadi langkah penting dalam memperkuat kesiapsiagaan dunia menghadapi ancaman Ebola.
Menurutnya, wabah Bundibugyo umumnya muncul di wilayah yang mengalami konflik, ketidakstabilan, serta keterbatasan layanan kesehatan sehingga dibutuhkan respons yang menyeluruh, mulai dari pengembangan vaksin hingga penguatan sistem kesehatan masyarakat.
Pengembangan Obat Ebola Juga Terus Berjalan
Selain vaksin, berbagai penelitian terapi Ebola juga terus dilakukan.
Saat ini tengah berlangsung uji klinis terhadap MBP134, terapi antibodi pan-Ebola yang dikembangkan oleh Mapp Biopharmaceuticals.
Di sisi lain, WHO juga sedang mengevaluasi beberapa kandidat pengobatan lain, termasuk kombinasi antibodi maftivimab bersama dua antibodi tambahan, serta obat antivirus oral obeldesivir yang dikembangkan oleh Gilead.
Harapan Memperluas Perlindungan terhadap Berbagai Strain Ebola
Selama ini vaksin Ervebo telah terbukti efektif melawan strain Zaire, yang menjadi penyebab sebagian besar wabah Ebola di Afrika.
Namun, munculnya strain lain seperti Bundibugyo menunjukkan perlunya pengembangan vaksin dengan cakupan perlindungan yang lebih luas.
Apabila hasil uji klinis menunjukkan efektivitas dan keamanan yang baik, vaksin baru ini diharapkan dapat menjadi salah satu senjata penting dalam memperkuat respons global terhadap wabah Ebola di masa mendatang.

