Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sejak Mahasiswa Melalui Pendekatan Promotif dan Preventif

Pencegahan Stunting

Oleh: Dr. dr. Slamet Sudi Santoso, M.Pd.Ked., CMLE., CMMED

Jakarta, Obkesindo, 1 Agustus 2026 – Pengurus OBKESINDO, Dr. dr. Slamet Sudi Santoso, M.Pd.Ked., CMLE., CMMED, menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting di Indonesia tidak dapat hanya difokuskan pada penanganan ibu hamil dan balita. Upaya tersebut harus dimulai jauh lebih awal, yakni sejak masa remaja dan  mahasiswa melalui penguatan

pendidikan promotif dan preventif yang terintegrasi dalam sistem pendidikan tinggi kesehatan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Pengurus OBKESINDO yang berlangsung di Gedung MAPORINA, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8). Menurut Dr. Slamet, pendekatan promotif dan preventif merupakan strategi paling efektif dalam mencegah stunting karena sebagian besar faktor risiko telah muncul jauh sebelum seorang anak dilahirkan.

“Mahasiswa kedokteran dan Ilmu kesehatan adalah calon dokter, perawat, bidan, ahli gizi, dan tenaga kesehatan masa depan. Mereka harus dipersiapkan bukan hanya sebagai pemberi pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu mengedukasi masyarakat dalam mencegah stunting sejak periode prakonsepsi,” ujar Dr. Slamet.

Pencegahan Dimulai Sejak Remaja

Dr. Slamet menjelaskan bahwa stunting merupakan masalah yang berakar dan harus dipahami sejak masa remaja. Status gizi yang buruk, anemia pada remaja putri, rendahnya literasi kesehatan reproduksi, hingga perilaku hidup tidak sehat dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pertumbuhan pada generasi berikutnya.

Karena itu, menurutnya, mahasiswa harus memperoleh pembelajaran komprehensif mengenai kesehatan reproduksi, gizi seimbang, pencegahan anemia, kesehatan mental, serta pentingnya mempersiapkan kehamilan yang sehat. Pendidikan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas individu mahasiswa, tetapi juga membentuk budaya hidup sehat di lingkungan kampus.

“Pencegahan stunting dimulai dari membangun generasi muda yang sehat. Kampus harus menjadi pusat pembentukan perilaku hidup sehat sekaligus pusat edukasi kesehatan masyarakat,” tambahnya.

Kampus Berperan Melalui Program 1000 HPK

Dalam paparannya, Dr. Slamet menekankan bahwa implementasi program 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) perlu diperkuat melalui berbagai kegiatan di lingkungan perguruan tinggi. Program seperti Kampus Peduli 1000 HPK, seminar kesehatan reproduksi, skrining anemia, pemeriksaan status gizi mahasiswa, kampanye konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), hingga pembentukan komunitas mahasiswa peduli stunting dinilai mampu meningkatkan kesiapan mahasiswa sebagai calon tenaga medis dan kesehatan sekaligus calon orang tua yang sehat.

Selain itu, mahasiswa juga perlu dilibatkan dalam kegiatan edukasi kepada calon pengantin melalui Puskesmas maupun Kantor Urusan Agama sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pelayanan (service learning). Kegiatan tersebut akan memperkuat kemampuan komunikasi kesehatan sekaligus memberikan pengalaman nyata dalam pendampingan masyarakat.

Edukasi Berlanjut Hingga Masa Kehamilan

Menurut Dr. Slamet, peran mahasiswa tidak berhenti pada tahap prakonsepsi. Selama masa kehamilan, mahasiswa profesi kedokteran dan kesehatan dapat berkontribusi melalui penyuluhan mengenai kebutuhan gizi ibu hamil, pentingnya konsumsi zat besi dan asam folat, kepatuhan pemeriksaan antenatal, serta pencegahan penyakit infeksi.

Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan melalui praktik komunitas, praktik klinik di Puskesmas, maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN) salah satunya dengan Tematik Stunting. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang kontekstual sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Posyandu Menjadi Laboratorium Pembelajaran Mahasiswa mengenai stunting

Dr. Slamet juga menilai bahwa Posyandu merupakan wahana pembelajaran yang sangat efektif bagi mahasiswa kesehatan. Melalui pendampingan Posyandu, mahasiswa dapat membantu kader melakukan pengukuran antropometri, pemantauan pertumbuhan balita, edukasi mengenai ASI eksklusif, pemberian MP-ASI, imunisasi, hingga stimulasi tumbuh kembang anak.

“Posyandu bukan sekadar tempat pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi juga laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi profesional sekaligus meningkatkan kepedulian sosial,” jelasnya.

Strategi Preventif Harus Diperkuat

Selain promosi kesehatan, strategi preventif dinilai memiliki peranan penting dalam memutus rantai terjadinya stunting. Upaya tersebut meliputi deteksi dini gangguan pertumbuhan,

pengobatan infeksi secara cepat, pemberian vitamin A, pencegahan kecacingan, imunisasi lengkap, serta peningkatan sanitasi lingkungan dan akses air bersih.

Mahasiswa kedokteran dan kesehatan perlu dibekali keterampilan melakukan skrining status gizi, interpretasi kurva pertumbuhan, identifikasi faktor risiko keluarga, hingga kemampuan memberikan konseling berbasis bukti kepada masyarakat melalui pendekatan community-based education dan interprofessional education (IPE).

Perguruan Tinggi Harus Menjadi Lokomotif Pencegahan Stunting

Lebih lanjut, Dr. Slamet menegaskan bahwa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan memiliki tanggung jawab strategis dalam mengintegrasikan pencegahan stunting ke dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan kurikulum 1000 HPK, penelitian mengenai determinan stunting, pembentukan desa binaan bebas stunting, KKN Tematik Stunting, pendampingan Posyandu, serta pembentukan Student Stunting Prevention Team yang melibatkan mahasiswa lintas profesi kesehatan.

Menurutnya, program tersebut akan memberikan manfaat ganda, yaitu meningkatkan kompetensi mahasiswa sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat.

Komitmen Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Menutup paparannya, Dr. Slamet menegaskan bahwa investasi terbaik dalam pembangunan sumber daya manusia adalah pencegahan stunting sejak dini. Ia berharap seluruh Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan di Indonesia dapat menjadi pusat inovasi dalam pengembangan program promotif dan preventif berbasis 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK).

“Apabila seluruh perguruan tinggi kesehatan mampu mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam upaya pencegahan stunting, maka kita tidak hanya menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” pungkas Dr. dr. Slamet Sudi Santoso, M.Pd.Ked., CMLE., CMMED., Pengurus OBKESINDO.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *